Pendahuluan
Agak sulit merumuskan secara tepat apa yang dimaksud
dengan normal dan abnormal tentang perilaku. Penyebabnya ialah sulit
menemukan model orang yang ideal atau sempurna dan tidak ada batas yang tegas
antara perilaku normal dan abnormal. Diperlukan sejumlah patokan atau ukuran
untuk membedakan antara normal dan abnormal. Pribadi yang normal pada umumnya
memiliki mental yang sehat, sedangkan pribadi yang abnormal biasanya memiliki
mental yang tidak sehat. pada hakekatnya konsep mengenai normalitas dan
abnormalitas samar-samar batasnya. Sebab
pola kebiasaan dan sikap hidup yang dirasakan normal oleh suatu kelompok
tertentu, bisa dianggap abnormal oleh kelompok lainnya. Akan tetapi apabila
satu tingkah laku itu begitu mencolok dan sangat berbeda dengan tingkah laku
umum, maka kita akan menyebutnya sebagai abnormal (Kartini Kartono, 2000 :
6-7). Salah satu kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah suatu perilaku
dikatakan abnormal atau tidak adalah dengan memperhatikan apakah perilaku
tersebut menyimpang dari standar tingkah laku atau norma sosial yang dapat
diterima.
Dilihat dari setiap sudut pandang, konsep normalitas-abnormalitas adalah konsep yang bersifat relatif. Penyimpangan dari norma apa pun yang diterima seseorang mungkin begitu kecil atau mungkin begitu mencolok sehingga kelihatan jelas sifat abnormalnya. Tetapi karena tidak ada dikatomi yang tegas, maka normalitas dan abnormalitas sulit dibedakan. Kebanyakan orang menerima bahwa penyesuaian diri yang baik sangat serupa dengan normalitas dan ketidakmampuan menyesuaikan diri sama dengan abnormalitas. Konsep-konsep ini berhubungan erat, tetapi artinya berbeda (Yustinus Semium, 2006 :56)
Dilihat dari setiap sudut pandang, konsep normalitas-abnormalitas adalah konsep yang bersifat relatif. Penyimpangan dari norma apa pun yang diterima seseorang mungkin begitu kecil atau mungkin begitu mencolok sehingga kelihatan jelas sifat abnormalnya. Tetapi karena tidak ada dikatomi yang tegas, maka normalitas dan abnormalitas sulit dibedakan. Kebanyakan orang menerima bahwa penyesuaian diri yang baik sangat serupa dengan normalitas dan ketidakmampuan menyesuaikan diri sama dengan abnormalitas. Konsep-konsep ini berhubungan erat, tetapi artinya berbeda (Yustinus Semium, 2006 :56)
Teori
1. DEFINISI UMUM
Sehat adalah keadaan berupa kesejahteraan fisik,
mental, sosial secara penuh dan bukan semata-mata berupa absennya penyakit atau
keadaan lemah tertentu (World Health Organization-WHO). Menurut H.B.
English, kesehatan mental adalah keadaan yang relatif tetap di mana sang
pribadi menunjukkan penyesuaian atau mengalami aktualisasi diri atau realisasi
diri. Kesehatan mental merupakan keadaan positif, bukan sekedar berupa
absennya gangguan mental. Menurut W.W. Boehm, kesehatan mental meliputi suatu
keadaan dan taraf keterlibatan sosial yang diterima oleh orang lain dan
memberikan kepuasan bagi yang bersangkutan. Bisa dirumuskan bahwa
normalitas sebagai keadaan sehat, yang secara umum ditandai dengan keefetifan dalam
menyesuaikan diri, yakni menjalankan tuntutan hidup sehari-hari, sehingga
menimbulkan perasaan puas dan bahagia.
2. BEBERAPA CIRI ORANG
YANG SEHAT-NORMAL
a. Sikap
terhadap diri sendiri : memiliki penilaian yang realistik terhadap
berbagai kelebihan dan kekurangan.
b. Persepsi terhadap
realitas : memiliki pandangan yang realistis terhadap diri dan terhadap
dunia orang maupun benda di sekelilingnya.
c. Integrasi :
berkepribadian utuh, bebas dari konflik-konflik batin yang melumpuhkan,
memiliki toleransi yang baik terhadap stres.
d. Kompetensi :
memiliki kompetensi-kompetensi fisik, intelektual, emosional, dan social yang
memadai untuk mengatasi berbagai problem hidup.
e. Otonomi :
memiliki kemandirian, tanggung jawab dan penentuan diri yang memadai disertai
kemampuan cukup untuk membebaskan diri dari aneka pengaruh sosial.
f. Pertumbuhan
aktualisasi diri : semakin berkembang kemampuan-kemampuannya dan mencapai
pemenuhan diri sebagai pribadi.
3. BEBERAPA KRITERIA
ABNORMALITAS
a. Penyimpangan
dari Norma-norma Statistik : abnormal adalah setiap hal yang luar biasa, tidak
lazim, atau secara harfiah yang menyimpang dari norma. hampir setiap
kepribadian tersebar dalam populasi orang mengikuti kurva normal yang bentuknya
mirip genta/lonceng, di mana dua pertiga dari jumlah kasus terletak pada
sepertiga dari keseluruhan bidang yang mewakili populasi tersebut. kriteria ini
cocok diterapkan untuk sifat kepribadian tertentu seperti sifat agresif, di
mana makin jauh dari nilai rata-rata baik ke arah kiri maupun kanan kita
temukan orang-orang dengan tingkat agresifitas ekstrem (rendah atau tinggi),
yang dua-duanya berkonotasi negatif. sebaliknya kriteria ini tidak cocok untuk
sifat-sifat kepribadian lain, seperti intelegensi sebab kendati sama-sama
abnormal namun genius (ektrem tinggi) jelas mempunyai nilai positif, sedangkan
sifat idiot (ekstrem rendah) punya nilai negatif.
b. Penyimpangan dari
Norma-norma Sosial : Menurut kriteria ini, abnormal diartikan sebagai non
konformitas, yaitu sifat tidak patuh atau tidak sejalan dengan norma sosial.
Inilah yang disebut relativisme budaya bahwa apa saja yang umum atau lazim
adalah normal. Kendati tidak selalu sepakat, namun patokan semacam ini sering
berlaku dalam masyarakat. Patokan ini didasarkan pada dua pengandaian yang
patut diragukan kebenarannya. Pertama adalah apa yang dinilai tinggi dan
dilakukan oleh mayoritas selalu baik dan benar. Kedua bahwa perbuatan individu
yang sejalan dengan norma-norma masyarakat yang berlaku selalu menunjang
kepentingan individu itu sendiri maupun kepentingan kelompok atau masyarakat.
c. Gejala “Salah
Suai” (Maladjustment) : Abnormalitas dipandang sebagai ketidakefektifan
individu dalam menghadapi, menanggapi, menangani atau melaksanakan
tuntutan-tuntutan dari lingkungan fisik dan sosialnya maupun yang bersumber
dari kebutuhannya sendiri. Kriteria semacam ini jelas bersifat negatif, artinya
tidak memperhitungkan fakta bahwa seorang individu dapat berpenyesuaian baik (well
adjusted) tanpa memanfaatkan dan mengembangkan
kemampuan-kemampuannya. Tidak sedikit orang yang secara umum disebut
"berhasil" dalam menjalani hidup ini, dalam arti hidup "lumrah
baik" namun sebagai pribadi tidak pernah berkembang secara maksimal
optimal.
d. Tekanan Batin :
Abnormalitas dipandang sebagai perasaan-perasaan cemas, depresi atau sedih atau
perasaan bersalah yang mendalam. Namun, ini bukan patokan yang baik untuk
membedakan perilaku normal dari yang abnormal atau sebaliknya. Tekanan batin
yang kronik seperti tak berkesudahan mungkin memang merupakan indikasi bahwa
ada sesuatu yang tidak beres. Sebaliknya sangat normal bila orang merasa sedih
atau tertekan manakala mengalami musibah, kekecewaan dan ketidakadilan.
Ketabahan memang merupakan suatu indikator kemasakan menghadpi bencana, namun
dalam keadaan biasa wajar misalnya, akan terkesan aneh apabila seseorang merasa
gembira menghadapi kematian orang yang terkasih.
e.
Ketidakmatangan : Seseorang dikatakan abnormal apabila perilakunya tidak sesuai
dengan tingkat usianya, dan tidak sesuai dengan situasinya. misalnya sering
sulit menemukan patokan tentang kepantasan dan kematangan. Colemen, Butcher dan
Crason (1980) dengan tetap menyadari kekurangannya akhirnya menggunakan dua
kriteria yaitu abnormalitas sebagai penyimpangan dari norma-norma masyarakat
dan abnormalitas dalam arti apa saja yang bersifat maladaptif. Yang terakhir
berati apa saja yang tidak menunjang kesejahteraan sang individu sehingga pada
akhirnya juga tidak menunjang kemaslahatan masyarakat. Kesejahteraaan atau
kemaslahatan masyarakat meliputi baik kemampuan bertahan maupun
perkembangan-pencapaian pemenuhan diri atau aktualisasi dari berbagai kemampuan
yang dimiliki.
4. BEBERAPA ISTILAH
TENTANG PERILAKU ABNORMAL
a. Perilaku
abnormal : Digunakan untuk menggambarkan tampilan kepribadian dalam (inner
personality) atau perilaku luar (out behavior) atau keduanya. Yang dimaksudkan
dengan istilah ini adalah perilaku spesifik seperti fobia atau pola gangguan
seperti skizofrenia. Demikian juga dengan masalah kronik atau yang berlangsung
lama, seperti introsikasi obat-obat dengan simtom yang akut atau temporer.
b. Perilaku Maladaptif
: Merupakan pemahanam abnormal yang bersifat konseptual, yang memasukkan setiap
perilaku yang memiliki konsekuensi yang tidak diharapkan. Tidak hanya perilaku
psikosis, atau neurotis, melainkan juga perilaku bisnis yang tidak etis,
prasangka rasional, alienasi (keterasingan), dan apatis.
c. Gangguan
Mental : Istilah ini digunakan untuk pola perilaku abnormal yang meliputi
rentang yang lebar, dari yang ringan sampai yang berat.
d. Psikopatologi :
Diartikan sama atau sebagai kata lain dari perilaku abnormal, psikologi
abnormal, atau gangguan mental.
e. Penyakit Jiwa
: Digunakan sebagai kata lain dari gangguan mental. Namun penggunaannya saat
ini terbatas pada gangguan yang berhubungan dengan patologi otak atau
disorganisasi kepribadian yang berat.
f. Gangguan
Perilaku : Digunakan secara khusus untuk gangguan yang berasal dari kegagalan
belajar, baik gagal memperlajari kompetensi yang dibutuhkan maupun gagal dalam
memperlajari pola penanggulangan masalah yang maladaptif.
g. Penyakit Mental :
Dulu istilah ini menunjuk gangguan-gangguan yang berkaitan dengan patologi
otak. Kini jarang dipakai.
h. Ketidakwarasan (insanity)
: Merupakan istilah hukum yang mengidentifikasikan bahwa individu secara mental
tidak mampu untuk mengelola masalah-masalahnya atau melihat
konsekuensi-konsekuensi dari tindakan-tindakannya. Istilah ini menunjuk pada
gangguan mental yang serius. Terutama penggunaan istilah ini bersangkutan
dengan pantas tidaknya seseorang yang melakukan tindak pidana dihukum
atau tidak
Contoh Kasus dan Analisa
Ratna berusia 10 tahun seringkali mengeluh belakangan ini melihat seorang anak perempuan yang mengikutinya ke mana saja ia pergi. Bahkan Ratna seringkali terlihat sedang berbincang –bincang dengan anak kecil tersebut. Anak itu sering memberitahu Ratna situasi berbahaya yang akan dihadapi ke depannya. Orangtua Ratna merasa takut degan perilaku anaknya tersebut. Orangtua Ratna berharap perilaku anaknya akan berubah. Keluarga pernah membawa Ratna ke seorang Kyai dan beliau mengatakan bahwa Ratna memang memiliki kemampuan ‘indera keenam’ sehingga dapat melakukan interaksi degan makhluk gaib.
Analisa :
Secara
awam kita pasti berpendapat bahwa Ratna ini memiliki perilaku abnormal. Hal ini
kita lihat dari masalah yang di alami oleh Ratna, dimana beliau selalu merasa di ikuti oleh anak kecil kemana
saja dia pergi serta bisa berbicara sendiri tanpa ada lawan bicaranya
yang secara kasat mata tidak dapat dilihat oleh orang disekitarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar