Jumat, 18 Maret 2016

KONSEP NORMAL ABNORMAL DI KALANGAN MASYARAKAT



Pendahuluan
Agak sulit merumuskan secara tepat apa yang dimaksud dengan normal dan abnormal tentang perilaku. Penyebabnya ialah   sulit menemukan model orang yang ideal atau sempurna dan tidak ada batas yang tegas antara perilaku normal dan abnormal. Diperlukan sejumlah patokan atau ukuran untuk membedakan antara normal dan abnormal. Pribadi yang normal pada umumnya memiliki mental yang sehat, sedangkan pribadi yang abnormal biasanya memiliki mental yang tidak sehat. pada hakekatnya konsep mengenai normalitas dan abnormalitas  samar-samar batasnya. Sebab pola kebiasaan dan sikap hidup yang dirasakan normal oleh suatu kelompok tertentu, bisa dianggap abnormal oleh kelompok lainnya. Akan tetapi apabila satu tingkah laku itu begitu mencolok dan sangat berbeda dengan tingkah laku umum, maka kita akan menyebutnya sebagai abnormal (Kartini Kartono, 2000 : 6-7). Salah satu kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah suatu perilaku dikatakan abnormal atau tidak adalah dengan memperhatikan apakah perilaku tersebut menyimpang dari standar tingkah laku atau norma sosial yang dapat diterima.
Dilihat dari setiap sudut pandang, konsep normalitas-abnormalitas adalah konsep yang bersifat relatif. Penyimpangan dari norma apa pun yang diterima seseorang mungkin begitu kecil atau mungkin begitu mencolok sehingga kelihatan jelas sifat abnormalnya. Tetapi karena tidak ada dikatomi yang tegas, maka normalitas dan abnormalitas sulit dibedakan. Kebanyakan orang menerima bahwa penyesuaian diri yang baik sangat serupa dengan normalitas dan ketidakmampuan menyesuaikan diri sama dengan abnormalitas. Konsep-konsep ini berhubungan erat, tetapi artinya berbeda (Yustinus Semium, 2006 :56)

Teori
1.      DEFINISI UMUM
Sehat adalah keadaan berupa kesejahteraan fisik, mental, sosial secara penuh dan bukan semata-mata berupa absennya penyakit atau keadaan lemah tertentu (World Health Organization-WHO).  Menurut H.B. English, kesehatan mental adalah keadaan yang relatif tetap di mana sang pribadi menunjukkan penyesuaian atau mengalami aktualisasi diri atau realisasi diri.  Kesehatan mental merupakan keadaan positif, bukan sekedar berupa absennya gangguan mental. Menurut W.W. Boehm, kesehatan mental meliputi suatu keadaan dan taraf keterlibatan sosial yang diterima oleh orang lain dan memberikan kepuasan bagi  yang bersangkutan. Bisa dirumuskan bahwa normalitas sebagai keadaan sehat, yang secara umum ditandai dengan keefetifan dalam menyesuaikan diri, yakni menjalankan tuntutan hidup sehari-hari, sehingga menimbulkan perasaan puas dan bahagia.


2.      BEBERAPA CIRI ORANG YANG SEHAT-NORMAL
a.       Sikap terhadap diri sendiri : memiliki penilaian  yang realistik terhadap berbagai kelebihan dan kekurangan.
b.      Persepsi terhadap realitas : memiliki pandangan yang realistis terhadap diri  dan terhadap dunia orang maupun benda di sekelilingnya.
c.       Integrasi : berkepribadian utuh, bebas dari konflik-konflik batin yang melumpuhkan, memiliki toleransi yang baik terhadap stres.
d.      Kompetensi : memiliki kompetensi-kompetensi fisik, intelektual, emosional, dan social yang memadai untuk mengatasi berbagai problem hidup.
e.       Otonomi : memiliki kemandirian, tanggung jawab dan penentuan diri yang memadai disertai kemampuan cukup untuk membebaskan diri dari aneka pengaruh sosial.
f.       Pertumbuhan aktualisasi diri : semakin berkembang kemampuan-kemampuannya dan mencapai pemenuhan diri sebagai pribadi.

3.      BEBERAPA KRITERIA ABNORMALITAS
a.       Penyimpangan dari Norma-norma Statistik : abnormal adalah setiap hal yang luar biasa, tidak lazim, atau secara harfiah yang menyimpang dari norma. hampir setiap kepribadian tersebar dalam populasi orang mengikuti kurva normal yang bentuknya mirip genta/lonceng, di mana dua pertiga dari jumlah kasus terletak pada sepertiga dari keseluruhan bidang yang mewakili populasi tersebut. kriteria ini cocok diterapkan untuk sifat kepribadian tertentu seperti sifat agresif, di mana makin jauh dari nilai rata-rata baik ke arah kiri maupun kanan kita temukan orang-orang dengan tingkat agresifitas ekstrem (rendah atau tinggi), yang dua-duanya berkonotasi negatif. sebaliknya kriteria ini tidak cocok untuk sifat-sifat kepribadian lain, seperti intelegensi sebab kendati sama-sama abnormal namun genius (ektrem tinggi) jelas mempunyai nilai positif, sedangkan sifat idiot (ekstrem rendah) punya nilai negatif.
b.      Penyimpangan dari Norma-norma Sosial : Menurut kriteria ini, abnormal diartikan sebagai non konformitas, yaitu sifat tidak patuh atau tidak sejalan dengan norma sosial. Inilah yang disebut relativisme budaya bahwa apa saja yang umum atau lazim adalah normal. Kendati tidak selalu sepakat, namun patokan semacam ini sering berlaku dalam masyarakat. Patokan ini didasarkan pada dua pengandaian yang patut diragukan kebenarannya. Pertama adalah apa yang dinilai tinggi dan dilakukan oleh mayoritas selalu baik dan benar. Kedua bahwa perbuatan individu yang sejalan dengan norma-norma masyarakat yang berlaku selalu menunjang kepentingan individu itu sendiri maupun kepentingan kelompok atau masyarakat.
c.       Gejala “Salah Suai” (Maladjustment) : Abnormalitas dipandang sebagai ketidakefektifan individu dalam menghadapi, menanggapi, menangani atau melaksanakan tuntutan-tuntutan dari lingkungan fisik dan sosialnya maupun yang bersumber dari kebutuhannya sendiri. Kriteria semacam ini jelas bersifat negatif, artinya tidak memperhitungkan fakta bahwa seorang individu dapat berpenyesuaian baik (well adjusted) tanpa memanfaatkan dan  mengembangkan kemampuan-kemampuannya. Tidak sedikit orang yang secara umum disebut "berhasil" dalam menjalani hidup ini, dalam arti hidup "lumrah baik" namun sebagai pribadi tidak pernah berkembang secara maksimal optimal.
d.      Tekanan Batin : Abnormalitas dipandang sebagai perasaan-perasaan cemas, depresi atau sedih atau perasaan bersalah yang mendalam. Namun, ini bukan patokan yang baik untuk membedakan perilaku normal dari yang abnormal atau sebaliknya. Tekanan batin yang kronik seperti tak berkesudahan mungkin memang merupakan indikasi bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Sebaliknya sangat normal bila orang merasa sedih atau tertekan manakala mengalami musibah, kekecewaan dan ketidakadilan. Ketabahan memang merupakan suatu indikator kemasakan menghadpi bencana, namun dalam keadaan biasa wajar misalnya, akan terkesan aneh apabila seseorang merasa gembira menghadapi kematian orang yang terkasih.
e.       Ketidakmatangan : Seseorang dikatakan abnormal apabila perilakunya tidak sesuai dengan tingkat usianya, dan tidak sesuai dengan situasinya. misalnya sering sulit menemukan patokan tentang kepantasan dan kematangan. Colemen, Butcher dan Crason (1980) dengan tetap menyadari kekurangannya akhirnya menggunakan dua kriteria yaitu abnormalitas sebagai penyimpangan dari norma-norma masyarakat dan abnormalitas dalam arti apa saja yang bersifat maladaptif. Yang terakhir berati apa saja yang tidak menunjang kesejahteraan sang individu sehingga pada akhirnya juga tidak menunjang kemaslahatan masyarakat. Kesejahteraaan atau kemaslahatan masyarakat meliputi baik kemampuan bertahan maupun perkembangan-pencapaian pemenuhan diri atau aktualisasi dari berbagai kemampuan yang dimiliki.

4.      BEBERAPA ISTILAH TENTANG PERILAKU ABNORMAL
a.       Perilaku abnormal : Digunakan untuk menggambarkan tampilan kepribadian dalam (inner personality) atau perilaku luar (out behavior) atau keduanya. Yang dimaksudkan dengan istilah ini adalah perilaku spesifik seperti fobia atau pola gangguan seperti skizofrenia. Demikian juga dengan masalah kronik atau yang berlangsung lama, seperti introsikasi obat-obat dengan simtom yang akut atau temporer.
b.      Perilaku Maladaptif : Merupakan pemahanam abnormal yang bersifat konseptual, yang memasukkan setiap perilaku yang memiliki konsekuensi yang tidak diharapkan. Tidak hanya perilaku psikosis, atau neurotis, melainkan juga perilaku bisnis yang tidak etis, prasangka rasional, alienasi (keterasingan), dan apatis.
c.       Gangguan Mental : Istilah ini digunakan untuk pola perilaku abnormal yang meliputi rentang yang lebar, dari yang ringan sampai yang berat.
d.      Psikopatologi : Diartikan sama atau sebagai kata lain dari perilaku abnormal, psikologi abnormal, atau gangguan mental.
e.       Penyakit Jiwa : Digunakan sebagai kata lain dari gangguan mental. Namun penggunaannya saat ini terbatas pada gangguan yang berhubungan dengan patologi otak atau disorganisasi kepribadian yang berat.
f.       Gangguan Perilaku : Digunakan secara khusus untuk gangguan yang berasal dari kegagalan belajar, baik gagal memperlajari kompetensi yang dibutuhkan maupun gagal dalam memperlajari pola penanggulangan masalah yang maladaptif.
g.      Penyakit Mental : Dulu istilah ini menunjuk gangguan-gangguan yang berkaitan dengan patologi otak. Kini jarang dipakai.
h.      Ketidakwarasan (insanity) : Merupakan istilah hukum yang mengidentifikasikan bahwa individu secara mental tidak mampu untuk mengelola masalah-masalahnya atau melihat konsekuensi-konsekuensi dari tindakan-tindakannya. Istilah ini menunjuk pada gangguan mental yang serius. Terutama penggunaan istilah ini bersangkutan dengan  pantas tidaknya seseorang yang melakukan tindak pidana dihukum atau tidak

 Contoh Kasus dan Analisa 

Ratna berusia 10 tahun seringkali mengeluh  belakangan  ini melihat seorang anak perempuan  yang mengikutinya ke mana saja ia pergi. Bahkan Ratna  seringkali terlihat sedang berbincang –bincang  dengan anak kecil tersebut. Anak   itu sering  memberitahu Ratna  situasi berbahaya yang akan dihadapi ke depannya. Orangtua Ratna merasa takut degan perilaku anaknya tersebut. Orangtua Ratna  berharap perilaku anaknya akan berubah. Keluarga pernah membawa Ratna ke seorang Kyai dan beliau mengatakan bahwa Ratna memang memiliki kemampuan ‘indera keenam’ sehingga dapat melakukan interaksi degan makhluk gaib.


Analisa : 
Secara awam kita pasti berpendapat bahwa Ratna ini memiliki perilaku abnormal. Hal ini kita lihat dari masalah yang di alami oleh Ratna, dimana beliau  selalu merasa di ikuti oleh anak kecil kemana saja dia pergi  serta bisa  berbicara sendiri tanpa ada lawan bicaranya yang secara kasat mata tidak dapat  dilihat oleh orang disekitarnya.


DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar